BitterFly

iuuuuhhh

Dado Haesun-Myeong-dong
25 Juli 2013

“Cinta adalah ketika kau bisa menerima kekurangannya,memahami keterbatasnnya dan melengkapi satu dengan yang lainnya”
Mata Hyomi langsung mengarah pada saluran televise yang diputar. Wajahnya yang begitu ekspresif tak menampakan raut senang atau sedih saat ini dia hanya melihat dengan datar apa yang terjadi di hadapannya.
Hari ini dia sedang menunggu seseorang di salah satu café bernuansa mandarin di kawasan perbelanjaan Myeongdong. Matanya melirik beberapa kantung belanjaan yang di dapatnya hari ini dengan tatapan ‘Siwon takan miskin bilapun aku membeli 100X benda-benda seperti ini’. pikirannya terus terarah pada laki-laki yang kurang dari satu bulan itu akan menjadi Suami-nya. Satu bulan sebelum menjadi istri sah Choi Siwon. Entah mengapa begitu banyak hal yang terjadi ketika hanya tinggal menghitung hari untuk pesta pernikahan mereka. Entah itu masalah dalam persiapan pernikahan atau masalah lain yang baru saja ia ketahui satu minggu yang lalu,masalah yang menurutnya adalah puncak kelelahannya menjadi wanita tersial yang akan menikahi laki-laki kotor bernama Choi Siwon.
Matanya kembali terpejam saat ingatan buruk tentang kejadian seminggu yang lalu tiba-tiba membuatnya benar-benar mual dan mungkin saja dapat mengeluarkan seluruh isi di perutnya. Hyomi melipat kakinya dan menaruh mukanya di sela-sela lekukan itu. menumpahkan rasa lelah yang harus ia jalani sendiri satu minggu ini. rasanya seperti dia di lempar telur busuk di tempat sepi,sangat sepi sampai tak ada yang menolongnya,tak ada yang mengantarnya dan tak ada yang perduli padanya. Rasanya seperti terlempar kedalam dunia yang gelap dan beroksigen tipis,Hyomi tak bisa bernafas. Tangannya menepuki dadanya sendiri. rasanya seperti maling yang mengambil barang kesukaan orang lain,mengeclaim barang itu untuk dirimu sendiri dan membiarkan pemiliknya tersakiti karna barang itu sekarang sudah menjadi milikmu. Tapi Siwon bukan barang.
Hyomi sadar bahwa sedari tadi ada orang yang duduk di hadapannya. Walau dia tak tahu kapan orang itu datang. Dia bahkan sudah lupa dengan janji mereka ketika rasa sakit itu menusuknya seperti jarum kecil yang pernah masuk ke paru-parunya saat dia berumur 6 tahun.
Hyomi mendongak melihat wajah dingin di hadapannya. Wajah mereka begitu menunjukan kesamaan saat hyomi melihat kea rah cermin di sebelahnya. Rasanya sekarang seperti ada kupu-kupu yang terbang di perutnya menari-nari,menyuruh syaraf Hyomi untuk mulai tertawa terbahak. Tapi rasanya kotak tertawanya sudah rusak atau tertusuk jarum hingga akhirnya hanya tatapan dingin yang ia tunjukan pada orang dihadapannya. Hyomi yakin laki-laki di hadapannya pun ingin tertawa mengingat sebenarnya ini bukan masalah besar yang harus membuat mereka diam seperti ini.
“Cinta adalah Hak yang bahkan tak bisa di atur oleh hati manusia….”
Suara televise kembali mengalun dengan mudah di telinga keduanya. Kali ini Hyomi memandang televise itu geram. Ingin sekali dia melempar televise itu dengan batu sampai tak berupa lagi layarnya. Atau mungkin menghampiri televise itu dan membantingnya dengan tangannya sendiri.
“ehm..apa kau mengajakku bertemu hanya untuk diam Song Hyomi?”laki-laki itu membuka pembicaraan. Matanya masih menatap lurus kearah mata Hyomi,tanpa takut sedikitpun dan mungkin juga tanpa rasa bersalah yang seharusnya ada di sorot matanya.
“lebih baik aku pergi jika tak ada yang penting disini”laki-laki itu meraih tasnya lalu berdiri dan berjalan kearah pintu keluar
“apa kau mencintainya?”Hyomi bergumam
Laki-laki itu berbalik memandang hyomi. Gadis itu begitu terlihat rapuh sekarang,dia tak tau harus berbuat apa untuk meringankan rasa sedih gadis itu. Gadis yang sudah seperti adiknya sendiri,mereka memang bukan tipe dua orang yang akan menunjukan kasih sayang dengan saling perhatian atau bertukar pesan. Laki-laki itu dan Hyomi memiliki hubungan yang lebih dari itu. Hubungan saling mengerti.
“kita mencintai orang yang sama? Apa begitu?”tanya Hyomi lagi
“Hyo-ie…ini…”
“kau tahu begaimana perasaanku saat aku tahu perasaanmu padanya? Rasanya seperti saat ada jarum masuk ke paru-paruku saat aku berumur 6 tahun,Heenim oppa memangkuku saat itu. Nafasku putus-putus,saat itu aku seperti di tinggalkan sendiri di ruangan yang sangat gelap,namun suara Heenim oppa selalu menemaniku,meminta dan memohon agar aku baik-baik saja . Namun saat ini aku sendirian dan tak bisa bernafas. Rasanya seperti ada yang menusuk-nusuk jantungku agar jantungku berhenti berdetak” Hyomi menengguk arak di depannya lalu kembali menatap kea rah lawan bicaranya “kau tahu oppa mengapa aku merasa sesakit itu?” dia kembali menuangkan arak ke gelas kecil bermotif di depannya “karna kau,karna kali ini bukan orang lain yang ku sakiti…karna kali ini,aku menyakiti orang yang begitu berarti di hidupku,aku menyakitimu…aku mengambil milikmu…aku seperti pencuri yang mengambil milik kakak laki-lakiku….”
“tapi Hyo-ie….”
“Woonie oppa tak pernah membiarkan aku dekat denganmu,aku dan dia pernah berdebat karna kau dulu. Kau memanggilku dengan panggilan yang begitu special,Hyo-ie…tak ada satu orangpun yang memanggilku dengan sebutan sepertimu. Dengan ‘hyo-ie mu’,kau tahu aku seperti adikmu sendiri. aku membuka tasmu tenpa seizinmu. Aku meminjam kartu kreditmu tanpa pernah membayar. Aku memecahkan kaca laptopmu dan kau hanya memelukku agar aku tak menangis. Kau membarikanku koleksi komikmu. Kita bertengkar,berebut oleh-oleh yang di bawa Hangeng tiap dia berkunjung. Tapi aku tak pernah menyangka aku dank au menyukai orang yang sama…aku tak pernah membayangkan meminta orang yang kau cinta….”Hyomi sudah berlinang air mata saat dia menjeda kalimat panjangnya. Jutaan kenangan mereka seperti kaset lama yang di putar begitu saja di otaknya.
“kali ini aku memohon padamu,aku mencintainya…berikan dia padaku oppa…aku mohon berikan dia padaku….”
“dia milikmu Hyo-ie…dia milikmu…” laki-laki itu juga menangis. Dia menangisi kesalahannya. Dia menangisi semua persamaan itu lagi. Persamaan yang membuat dia dan orang yang dia cintai akhirnya tak bisa menyatu. Persamaan yang membuat adik kesayangannya menangis terisak di depannya
“mianhae…mianhae…”gadis itu turun dari tempat duduknya beringsut ke kaki ‘oppa’-nya itu “oppa…maafkan aku….”isaknya
Dan hari ini,hari dimana mereka mengganti tawa mereka dengan tangis yang sama sekali tak pernah mereka bayangkan.

*****
Super Junior’s Dorm
23 Juli 2013

Hyomi terduduk bosan di dorm yang hanya tinggal di diamin oleh Donghae. Semua orang pergi berlibur sedangkan Kyuhyun orang yang dicarinya melah sedang ada jadwal pemotretan dengan salah satu model terkenal di salah satu studio di Gangnam. Gadis itu mendengus kesal karna sedari tadi Donghae hanya asik bertelefon dengan Jin Ga. Jujur saja dia lebih baik mengurus muntahan heebum daripada mendengarkan gombalan donghae yang begitu menjijikan.
“BOSANNNNNNN!!!!”jeritnya
“stttt”donghae memandangnya dengan tatapan setan ikannya. Hyomi mendengus kesal sungguh ini adalah kegiatan paling membosankan di hidupnya.
Hyomi melangkah menuju pintu kamar Kyuhyun. Hatinya menimbang-nimbang untuk memutar kenop pintu di hadapannya. Bimbang. Kyuhyun tak pernah mengizinkan orang lain masuk ke dalam kamarnya. Dan Hyomi adalah orang yang menghargai privasi orang lain. Dia berfikir sebentar di depan pintu kamar Kyuhyun.
“tak apa lagi pula aku hanya masuk dan menaruh kartu kredit oppa lalu keluar lagi dan pulang,aku tak akan menyentuh apapun…”jumam Hyomi pada dirinya sendiri
Tangan hyomi memutar kenop pintu di hadapannya. Kakinya melangkah masuk ke dalam kamar itu. Rapi. Hanya itu yang bisa ia katakan. Kyuhyun bukan tipe laki-laki yang maniak dengan kebersihan tapi kamar ini adalah kamar laki-laki terbersih yang pernah ia temui. Siwon saja kamarnya selalu berantakan. Hyomi menuju meja di dekat jendela kamar tersebut,dia meletakan kartu kredit Kyuhyun di meja tersebut lalu berniat berbalik sebelum dia melihat sebuah buku terbuka di hadapannya. Tangannya meraih buku itu. Matanya terbelalak ketika membaca tulisan itu. Tangannya lemas,lidahnya kelu,Hyomi hampir terjatuh jika tangan kirinya tak sigap berpegangan pada meja di belakangnya.
“kau…”
Hyomi terbelalak memandang kyu yang tiba-tiba ada di depan pintu kamar tersebut memandangnya dengan tatapan dingin dan menusuk. Air mata Hyomi siudah tak bisa di tahan lagi sekarang. Hatinya tak terima dengan tatapan menyalahkan Kyuhyun. Hati hyomi telah mengeclaim miliknya yang dicinta orang lain,miliknya yang ingin dimilikki orang lain.
“Kyuhyun oppa…kau…”eja Hyomi pelan
“KELUARRRRR!!!!!!”teriak Kyuhyun
Hyomi menggeleng sambil menutup matanya dia menutup telinganya. Dia berharap dia tuli,buta dan bisu sekarang.
“KELUAR AKU BILANG!!! KELUARRR!!!!”Kyuhyun menyeret tangan Hyomi menyeretnya keluar begitu jauh. Bukan hanya dari kamarnya tapi dari kehidupannya.
Nafas Hyomi begitu sesak saat Kyuhyun melemparkan tasnya keluar Dorm mereka. Hyomi bahkan tak ingat apa yang dia lakukan di dalam tadi. Syarafnya lumpuh seketika,ingatannya melemah. Jantungnya bergerak lambat mengikuti alur detik di kehidupannya. Namun dia tak merasa hidup sekarang. Semuanya serasa gelap. Hanya satu kutipan yang dia ingat. Kutipan yang mengambil oksigen di hidupnya.

Andai suatu hari kita saling bertemu lagi,di kehidupan yang lain,aku berharap aku bukan aku..aku berharap aku bertemu denganmu sebagai orang lain. Orang yang tak akan malu untuk mengatakan “siwon-ah,aku mencintaimu”-Cho Kyuhyun

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s